[ star molyvi ]

~I found him, the only thing I could find and wanted to find, the only star that I noticed, the only illumination, the only chunk of ice in the desert, but you? You found me when I was destroyed,~


Teman baru
Pada suatu hari di sebuah negeri bernama Kayland bedirilah sebuah sekolah peri bernama Kaylestley . Disana tinggallah seorang anak bernama Astley. Dia memiliki sayap peri kuning cerah dan mata cokelat gelap. Sering membiarkan rambut kecoklatan pendeknya terurai.
Astley sudah bersekolah disana selama 1 tahun tapi tahun ajar baru ini dia akan ditempatkan di asrama sekolah.
 Di kamar barunya ia mendapat sebuah kejutan kecil,
"hai , siapa namamu?" kata seseorang yg muncul tiba tiba di belakang Astley yang masih memandang ke arah kamar yang sangat tidak rapi itu.
"siapa kau?"
"yang benar saja, harusnya aku yang bertanya, siapa kau? ini kamarku bung"
"aku Astley"
"yeah, aku Chalta, selamat datang di kamarku, sekarang kamarmu juga, kita disini masih bedua saja, jadi kamu bisa memilih tempat di dekat aquariumku, sekarang milikmu juga, atau di dekat pintu" kata Chalta sambil terbang melintasi ruangan dari aquarium ke pintu.
"sepertinya aku akan lebih suka di dekat aquarium saja"
Chalta, peri dengan sayap biru kehijauan dengan mata abu-abu gelap dan rambut pendek ikal spiral yang diikat. Kini menjadi teman sekamar Astley.

Seseorang
hari hari diasram mereka lalui bersama hingga pada suatu pagi yang cerah , Astley yang sedang melintas di koridor sekolah dikejutkan oleh keberadaan hewan kecil tapi jelas bukan dari Kayland , dan sepertinya itu benda jahat .
"halo manis" kata hewan seram serupa kelelawar berbadan serigala merah yang menyala .
"apa kau" tanya Astley sambil memegang bolfoin ajaibnya
"aku hanya mencari , sesuatu !" ujar hewan merah itu menyerang Astley seketika
di hunuskanlah bolfoin ajaib Astley yang berubah menjadi pedang tembaga tajam yang mengeluarkan aura kekuningan itu , namun , tak seujung pedangpun menyentuh si merah kecil, Astley mendapat luka bakar ringan di bahu yang tersentuh ekor hewan merah itu , dan merasa lumpuh setelah panasnya seperti menyebar ke seluruh tangannya hingga tidak sadarkan diri setelah melihat kedatangan seorang Chalta.
terdengar suara dari balik Astley
"Kokunna ! apa yang kau lakukan disini ?" hentak Chalta dari tempatnya datang
"menjemput senjataku , manis"
"tidak akan kau dapatkan disini!" Chalta mengeluarkan pensil petik dari sakunya , dan seketika berubah menjadi pedang  yang belum pernah tampak di Kayland sebelumnya!
pertempuran berlangsung antara Chalta dan mahluk kokunna itu .
pedang Chalta menyabit tepat pada pangkal ekor Kokunna itu , dan membuat hewan itu marah dan lebih membabi buta . menyerang ke arah Chalta dengan cepat dan membuat Chalta jatuh di sudut koridor dengan pedang yang terlepas dari genggamannya .
Kokunna dengan gesitnya mendekat dan bersiap melakukan sesuatu yang sepertinya sebuah mantra , dari arah berbeda sebilah anak panah menancap di dada Kokunna dan membuat kokunna berubah seketika menjadi lumpur hitam yang lalu berubah menjadi debu dan hilang.


seseorang anak laki laki dari sana meneteskan cairan pada bahu Astley dan menatap Chalta yang masih terpaku menatap antara anak itu, bekas debu, dan pedangnya yang menyusut jadi pensil lagi. anak tak dikenal itupun pergi . dan entah apa yang membuat mata Chalta terpejam seketika .

Orang itu
ketika terbangun , Astley sudah berada di rumah sakit asrama , dengan gugupnya dia celingukan tak berdaya mencari temannya Chalta , yang terakhir kali dilihatnya bergelut dengan makhluk Kokunna yang merah itu.


di tempat lain , di kamar tentunya , Chalta menatap keluar jendela kamar , memperhatikan seseorang yang ada disana beberapa lama . orang itu menggunakan topi hitam berlogo yang menunjukkan kalau dia dari asrama 6 putra , rambut pendek rapih , dengan sayap biru dengan tepian kuning , dan sedang bermain bola di lapangan yang bisa terlihat dari jendela Chalta .
"sayapnya unik" gumam Chalta sendiri
tanpa disadarinya sepertinya anak itu kebetulan menatap ke arah Chalta dan jendelanya ,
"o ooww" gumamnya lagi sambil memalingkan wajah ke taman di bawah jendela kamarnya yang berada di lantai 5 .
Chalta merasa kikuk dan salah tingkah, dan bertanya tanya, kenapa melihat orang itu .saat Chalta menatap ke lapangan dan tidak menemukan sayap biru kuning tadi . tanpa pikir panjang , dia beranjak meninggalkan jendelanya dan melintasi begitu saja ranjangnya yang selalu terlihat kurang rapi dibandingkan ranjang Astley, melenggang ke arah lemari makanan dan meneguk segelas madu bunga starlace yang dia panen sendiri dari bunga kesukaannya itu . setelah puas minum, mengambil botol minum kuning Astley, mengisinya penuh madu bunga moonlace kesukaan Astley dan bergegas pergi ke tempat Astley sekarang .


"terimakasih ya" ujar Astley pada sahabatnya ini
"kau tahu ? buket bunga ini siapa yang meletakkannya disini ?" lanjut Astley
"starlace ? bagaimana bisa ada disini?" tanya Chalta heran
"dia bilang , dia yang menolong kita , waktu ada Kokunna itu" jawab Astley
"sepertinya dia.." lanjut Chalta
"peri yang kuat" sahut Astley
ya , bagaimana mungkin dia menumbuhkan starlace semacam ini kalau dia bukan peri yang sudah di level β ? maksudku , starlace pada umumnya mekar saat ada bintang , yang berarti hanya mekar dimalam hari , kenapa pagi pagi begini bisa ?
"apa kamu tau dia siapa ?" tanya Chalta penasaran
"tidak , dia tidak mengenakan atribut asrama samasekali , aku cuma ingat wajahnya , tentu saja" jawab Astley singkat
"pasti dia orang yang mengagumkaaannn !" gumam Chalta penuh harap dan kekaguman
"mungkin dia akan datang lagi, enath kapan" celetuk Asley menggoda
"aku tunggu" jawab Chalta singkat , lalu pergi dari kamar rumah sakit
"heii , kau tak berniat lebih lama di sini ?" tanya Astley percuma pada Chalta yang menghambur ke luar kamar .

jadi orang itu ...
pagi ini Chalta sendirian lagi dikamar , Astley belum diperbolehkan kembali ke kamar oleh dokter.
dia terbang ringan ke arah kamar mandinya dan mulai mandi, kamar mandi itu terlihat sedikit berantakan karena tidak ada Astley 2 hari ini, anak yang biasanya tidah betah pada ke-berantakan dan menyenangi kerapihan.
setelah mandi, mulailah ia sibuk sarapan, segelas madu starlace yang kebiruan diteguknya dengan semangat dilanjutkan dengan mengunyah sepotong biskuit ajaib yang selalu tersedia di meja makan asrama tiap pukul 7 pagi.
terlalu pagi untuk berangkat ke kelas kesenian hari ini. seperti kebiasannya biasanya, dia duduk di ranjangnya yang tepat di sebelah jendela dan menatap ke luar sambil melamunkan hal hal yang entah hal apa. salah satunya Kokunna , ia terus terbayang bayang kata-kata Kokunna yang datang ingin menjemputnya , seperti ada sesuatu yang dihindarinya yang tidak ingin dia ingat. Chalta sakit, saat mengingat hal itu kepalanya terasa ditempeleng, ia mencengkeram kepalanya kuat kuat, merintih, lalu terbang ke luar jendela, entah kemana arah perginya, dia terbang tanpa haluan dan terjatuh disuatu tempat. Dia melihat ribuan moonlace disekitarnya, lalu matanya terpejam dan entah dimana dia sekarang.

Chalta mulai membuka matanya , dan bergerak. dari arah entah dari mana ia mendengar seseorang berbicara.
"kenapa kau selalu merepotkanku"
chalta terduduk di sebuah ranjang anyaman ilalang yang hijau dengan bunga krisan dan starlace tumbuh dari tepian ranjang itu ,
"siapa maksutmu" jawab chalta yang mengamati ruangan itu sambil memegang kepala dan berusaha melihat dengan jelas orang di ruangan itu.
"kau"
"aku nggak memintamu menolongku"
"gimana aku nggak menolongmu , kamu pingsan di taman samping pondokku dan kamu bilang kamu nggak minta tolong padaku? jangan bodoh"
"heiiiii , siapa sih kamu ?"
"aku, anak yang menolongmu dari Kokunna di koridor, anak yang menolongmu saat kamu jatuh tepat ditaman moonlaceku yang baru mekar sekali" jawab anak itu ketus.
"tentu saja , kau baru menanamnya kemarin siang kan ?" tanya Chalta nyeplos
"hah ? bagaimana kau tahu?" tanya anak itu heran
"jadi sebenarnya siapa yang bodoh ? tentu saja dia baru berbunga sekali kalau dia baru bertemu bulan satu kali !" jeplak Chalta membalas keketusan sang pemilik pondok
anak itu hanya tertawa kecil sambil menuangkan madu ke gelas dan memberikannya pada Chalta.
"madu apa ini?" tanya Chalta
"starlace"
"kenapa memberiku starlace ? bukannya kebun bungamu itu penuh moolace?"
"kebunku bukan hanya ditempatmu jatuh bodoh"
"huh , starlace apa ini?"
"jangan bodoh , tentu saja starlace yang kau lihat tiap hari di kota"
"biru?"
"terlalu bodoh , iya laah"
"kau lebih bodoh, kau kira cuma ada starlace biru di kota ini ? ..." kata Chalta sambil menahan kalimat terakhirnya yang dia rasa tidak perlu di bicarakan ke seluruh penjuru kota.
"apa maksudmu ?"
"tidak ada" jawab Chalta sambil meneguk segelas madu pemberia si pemilik pondok
"setahuku ada dongeng yang bercerita kalau dulu starlace di kota ini bukan hanya biru metalik yang biasa kita lihat, tapi dulu ada starlace kuning yang bersinar juga, tapi ..."
"tapi kenapa ?"
"menurut dongeng ..."

anak itu pun bercerita panjang lebar tentang dongeng yang diketahuinya itu dengan bersemangat, namun Chalta mendengarnya dengan gelagat kurang tertarik walaupun ia sudah melihat sendiri starlace kuning itu, walaupun dalam dongeng anak pondok tadi starlace kuningnya diceritakan bercahaya.
setelah bercerita panjang lebar anak itupun bertanya pada Chalta
"oh iya siapa namamu ?"
"aku ? Chalta, namamu ?"
"Gallan"
"kau asrama mana ?"
"asrama 1, kau?"
"asrama 3, mau berkunjung ?"
"nanti kalau aku sedang ingin mendapat sanksi dari sekolah karena berada di dalam kamarmu"
"bodoh, siapa yang menyuruhmu masuk kamarku ha ?"
pertengkaran kecil peri peri yang baru berkenalan.
"bagaimana kau mendapat starlace siang hari itu?" tanya Chalta
"itu aku menemukannya di belakang gedung sekolah, siapa yang menanam ? manaku tau "


seperti sesuatu
"halooo sayaangg ," teriak Astley menyembur ke dalam kamar asrama yang hanya terlihat seorang Chalta yang asik menggambar disana.
"kau panggil apa barusan ?" tanya Chalta dengan raut sadis
"kau tidak bersemangat" jawab Astley lesu
"waaaww , kau sudah boleh pulang ?" tanya Chalta semangat
"sudah lupakan, kau sudah tau jadwal pulangku kan ?"
"hey , aku tahu siapa yang meletakkan buket starlace itu di kamarmu"
"siapa ?"
"namanya Gallan , dan dia samasekali tidak mengagumkan seperti apa yang dia lakukan pada starlace siang hari itu"
"ya sudah"
setelah membantu Astley merapikan barang bawaan dari rumah sakit, Chalta kembali ke jendela specialnya, menatap ke arah lapangan dan menemukan peri sayap biru kuning itu lagi. Mata Chalta yang kelabu semakin nampak bagaikan badai yang bergulung saat dia menemukan si sayap biru kuning itu, menatap lekat sayap itu hingga permainan di lapangan bubar dan si sayap biru kuning itu pergi dari jangkauan pandang Chalta.
hari sudah gelap dan ia tidur dengan jendela yang masih terbuka disamping ranjang ilalangnya yang dianyam halus kelabu dan memiliki corak daun ilalang yang masih segar.


malam ini Chalta bermimpi,
dia berada di sebuah kastil dengan pilar yang tinggi dan kuat dengan dilapisi batu marmer cerah yang berukir. dia melihat Kokunna yang sudah pernah ia lihat sebelumnya hanya saja yang ini jauh lebih besar, hampir 2 kali ukuran tubuh Chalta dan ia mengerang
"bagaimana caramu datang kemari manis, bahkan aku belum menyiapkan pesta penyambutan untukmu" kekeh Kokunna raksasa itu
"kau, kenapa selalu aku ?" jawab Chalta sambil mencari anak panah dipunggungnya. seketika saat ia memungut anak panah itu, anak panah itu berubah menjadi bilah pedang perak dengan aura biru keabuan, Chalta menyebutnya Lucas.
"jangan disini manis, mainanmu tak akan berfungsi di daerah kekuasaanku, berdoalah agar kau masih bisa bangun pagi ini" Kokunna raksasa itu terkekeh.
tanpa pikir panjang, Chalta menyerang makhluk itu dengan pedangnya, namun setelah pedang itu menyentuh lengan Kokunna raksasa itu, pedangnya lenyap tak berbekas.
"tidak, Lucas !"
dan Chalta pun dihempaskan membentur pilar gagah kastil marmer itu.
"kau akan mengabdi pada Hogrusius kan manis ?"
"jangan harap !" ujar Chalta sambil meringkuk mencengkram kuat pada perutnya yang sakit karena menghantam pilar.
Chalta terus saja berfikir bagaimana pergi dari tempat itu dan mendapatkan Lucas kembali untuk membunuh makhluk raksasa merah itu, berkali ia mencoba keluar, seolah kastil itu diselungi tembok magis yang membuatnya tak sanggup melangkah sejengkalpun dari dalam kastil. Terlintas dalam benaknya taman starlace kuning yang bersinar dan entah mengapa dia memanggil dalam hatinya, seseorang yang bersayap biru kuning yang ia lihat dilapangan asrama, entah mengapa.
Dan sesuatu seperti berbisik pada Chalta, ia mendengar sesuatu tapi tak mendengar suara. ia seperti membaca. Perlahan ia mengucap sesuatu, dari sesuatu itu. tiba tiba seketika cahaya silau menyerang ruangan luas itu dan semuanya gelap.


Deilos
bagi Chalta, semalam itu seperti begitu nyata sampai sampai tidak terasa semalaman ia tidur dilantai karena mungkin terjatuh dari ranjang, bahkan membuat punggungnya begitu nyeri sampai bagian perutnya.
ia berjalan sambil mengernyit ngernyit kesakitan dalam perjalanannya ke kelas, sayapnya terasa ngilu dan akan lebih ngilu kalau dia harus mengepakkannya sedikit untuk mempercepat perjalanannya.


tak sengaja ia berpapasan dengan seseorang yang selama ini ia perhatikan dengan tak sengaja. sayap biru kuning itu melintasi lorong lebih pelan dari yang ia lakukan, berjalan. Chalta memandang sosok itu dengan terpana. Ia tersenyum pada Chalta dan berhenti didepan Chalta. Ia memberikan sebuah daun yang dilipat rapi yang digunakan untuk membungkus obat, dan sebotol kecil madu.
"apa? ini?" tanya Chalta yang masih terpana dan terheran heran dan agak ketakutan. sosok itu berparas mungil seperti usianya lebih muda dibanding Chalta, matanya bulat berbinar, dan pakaiannya rapi sekali.
"aku Deilos" ujarnya singkat lalu melanjutkan perjalanannya lagi ke cabang lorong, mungkin ke kelasnya.
"apa aku bisa bertemu lagi? ada yang ingin..."
"di lapangan biasa, sepulang sekolah" ujar Deilos sambil membalikkan badan dan tersenyum, membuat matanya menyipit dan membuatnya nampak lebih manis bahkan sebelum Chalta selesai bertanya.
Chalta tidak tahu apa maksut Deilos, lapangan biasa? mimpinya? bungkusan obat? Deilos?
"oh iya, aku Chalta" kata Chalta setengah berteriak agar Deilos yang sudah di ujung lorong bisa mendengarnya. Deilos hanya melambai tanpa menoleh lalu hilang di belokan lorong.

starlace
bungkusan itu berisi butiran butiran sebesar ujung kelingking, berwarna kuning cerah nyaris bercahaya seperti fosfor, dan itu sepertinya memang obat. botol mungil itu menampung penuh madu yang terlihat segar. tapi Chalta menahan diri untuk meminum madu itu, dia masih was was, mungkinkah itu racun atau cairan pembunuh, ia tetap berfikir seperti itu walaupun terlihat sekali kalau ia ingin segera meneguk madu itu. dari kejauhan Chalta melihat seseorang datang mendekat, jelas sekali itu si sayap biru kuning yang bernama Deilos.
"jadi bisa kau ceritakan sesuatu ?" tanya Chalta bahkan sebelum Deilos dipersilahkan duduk di bangku taman yang ia duduki.
"panjang" jawab Deilos singkat.
"aku punya waktu yang lebih panjang untuk mendengar"
"bahkan ceritanya lebih panjang dari banyaknya waktumu mendengarkan" jawab Deilos datar dan membuat Chalta semakin sebal.
"minum dulu obat itu dan aku akan cerita" lanjut Deilos
meski ragu, Chalta akhirnya meminum obat itu lalu meneguk madu dalam botol mungil itu. Chalta terkagum kagum, antara percaya dan tidak, madu ini seperti berasal dari suatu tempat yang begitu sejuk dan memiliki pemandangan terindah yang belum pernah ia lihat.
"itu madu starlace" kata Deilos yang melihat wajah Chalta yang terkaget kaget
"bercanda, madu starlace itu madu kesukaanku, aku tidak pernah lupa bagaimana rasanya dan ini bukan starlace" tukas Chalta yakin. Deilos hanya tersenyum putus asa, atau lebih tepatnya mengalah.
"kamu.." kata Deilos terputus
"ya ? boleh aku bertaya ?" tanya Chalta
"ya"
"aku sedikit bingung, Deilos ? bisa kau ceritakan sesuatu ?" tanya Chalta seolah tidak menanyakan apapun. tapi Deilos mengerti , Deilos mulai menceritakan sesuatu , tentang kastil dalam mimpi Chalta, juga tentang siapa Chalta.

aku harus ?
 
...