Ah, laman ini sudah mulai usang ya. Bahkan kamu pun sudah tak pernah lagi berkunjung untuk sekedar baca baca, hobimu kan?
Mungkin ini sudah
ketikan kesekian sejak awal kita bertukar pesan mmm 3 setengah tahun yang lalu
kalau dihitung dari saat saya ketikkan lagi laman ini untuk... haha mungkin
memang untuk kamu, atau buat saya sendiri ya? ini buat saya haha.
Saya mengagumi senja
lewat pantai, darla. Tempat yang sebelumnya tak
saya sukai. Belakangan saya tau kamu juga tidak terlalu suka, kan?
Pendar jingga itu menenangkan saya. Banyak orang diluar sana yang menghubungkan
senja dengan masa lalu dan pagi sebagai hari baru, demikian juga denganmu, kan?
Haha tunggu, sepertinya saya mulai mengajakmu berdebat. Seperti perdebatan-perdebatan
kita sebelumnya, yang tanpa jalin aksara, perdebatan yang ngawang begitu saja
di angkasa, entah ketemu atau tidak argumen-argumen itu yang jelas kita sedang
berdebat huft.
Tentang senja yang
saya maksud. Matahari nampak gagah sekali ketika perlahan menyelam kedalam
lautan, kala itu saya sedang duduk-duduk di Seminyak, sambil nyeruput es teh
ditabur-tabur daun mint dan nyemilin pizza kering masa kini. Pantai itu memang
ramai, tapi matahari yang seperti itu, yang bundar dan oranye tampak sekali
disana, menyelam tanpa dihalangi bule-bule yang berlarian seperti di kuta,
jelas, karena bulenya duduk-duduk juga di belakang saya, ah saya di depan. Kemudian
pendar cahayanya yang tersangkut di surai surai awan, langit biru yang sudah
mulai berbaur dengan kegelapan di belakang pandangan, warna keemasan di depan,
merah jambu, nila, arggggh i wish i could tell you how i feel eh kok how i
feel, what i’ve seen wkwk
Dan senja-senja lain
di Bali yang tak dapat saya ceritakan satu persatu padamu. Senja-senja maksud
saya senja di pantai, di balkon, di kantor, di bajra sandi, di loteng rumah
pakpuh, bahkan senja yang mengintip jahil di kelambu kelas. Biarkan saya
bercerita dengan lebay, darla. Kalau padamu saya memang begini semangatnya.
Jadi bukan karena masa
lalu yang dibawa oleh pendar jingga nya ya, darla. Lagipula, masalalu yg
seperti apa sih yang menjatuhkan?
Tentang matahari yang
terbit, saya akui rekamanmu soal hangatnya matahari terbit pasti... tak kalah
seru. Cuman kamu ndak lebay kayak saya kalau cerita :D tapi tak apa saya bisa
ikut lihat, dari semangat dan sorot mata yang, saya perkirakan, menghangatkan
hati , itu.
Kamu hampir tidak
pernah sekalipun menceritakan keluhan dan masalah pada saya. Bagaimana saya
bisa sepercaya diri ini yaa haha. Tak perlu kamu pikirkan masalah saya,
pikirkan saja apa yang ada di hadapanmu, saat itu, katamu, dengan sedikit
dramasisasi dari saya, selalu. Huft. Kamu ndak percaya ya sama saya? Saya sekuat
ini lo seperti yang dinyanyikan band favorit, judul nya Proof. Ndak mungkin
kamu ndak tau kan? haha dan saya tetap lebay, selebay ini.
Kepanjangan. Yang
jelas begini, entah itu pagi atau senja, keduanya jingga, Darla. Dan tentang
matahari. Mmmmmm entah ia terbit untuk terbenam atau terbenam untuk terbit, seperti
kabarmu. Eh. Aku masih kirim pesan singkat untuk Tuhan pada jingga-jingga itu,
supaya kamu baik baik saja. Dan supaya saya baik baik saja, juga. Dan mimpimu
harapanmu cita-cita besarmu segera tercapai, bersamaan dengan dijauhkannya jauh
jauh dari kepalamu kegelisahan, kesedihan, keputus-asa-an,
dan ke-hyperwoles-an itu. Haha
Karena saya ndak bilang kamu jahat, ndak pernah
bilang begitu. Selamat menjingga.
(Bali cliff, 2014)
